Trip to JEPANG! - Part 4 (TOKYO)

Usai sudah tiga hari kami mengunjungi Osaka (BACA: Trip to Jepang! - Part 2) dan Kyoto (BACA: Trip to Jepang! - Part 3). Memang benar kepergian saya ke Jepang tujuan utamanya adalah untuk pertukaran pelajar di Tohoku University yang terletak di kota Sendai, Prefektur Miyagi. Namun karena ini merupakan perjalanan pertama saya menuju negeri matahari terbit ini, maka saya sempatkan 4 hari datang lebih awal untuk dapat mampir ke kota-kota lainnya. Dan hari ini, kami menuju Tokyo! Bagi kalian yang baru baca kisah Trip to Jepang saya ini, perjalanan ini saya lakukan di tahun 2015 yah, namun baru saya lanjutkan di tahun 2017 ini, selamat membaca!

Photo courtesy Gaijinpot.com

Peserta pertukaran pelajaran ini harusnya ada 5 orang, namun yang berangkat lebih awal dan berkeliling ke Osaka dan Kyoto hanya bertiga termasuk saya, dan di Tokyo di hari inilah meeting point kami dengan dua orang kawan kami sisanya. Yap, mereka baru datang dari Surabaya pagi ini, dan kami sudah janjian untuk bertemu sekitar jam 10 pagi di Shimbashi Station, yang merupakan stasiun interchange kereta JR dan juga Tokyo Metro Subway terdekat dengan penginapan kami di area Ginza, Tokyo.

JR PASS HILANG?


Perjalanan dari Osaka menuju Tokyo kami mulai pagi hari jam 6 dengan menuju Shin-Osaka Station. Kami akan menggunakan shinkansen menuju Tokyo, dan disinilah terjadi sebuah insiden kecil yang terhitung besar! Bagaimana tidak, salah satu teman saya menghilangkan JR PASS-nya di salah satu kereta saat kami berpindah-pindah kereta. Apa yang terjadi kemudian? Kita semua bingung dan kewalahan. Ditambah dengan koper kami yang terhitung raksasa kesana kemari otomatis menyusahkan mobilitas kami. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan teman kami tidak sengaja menghilangkan JR PASSnya, bingung dan keberatan sama barang bawaan. *uh-oh*

Kami coba mengurus ke kantor JR PASS hingga disarankan ke bagian Lost & Found. Berbekal daya komunikasi menggunakan bahasa purba dan bahasa tubuh karena petugasnya tidak bisa bahasa inggris sama sekali, JR PASS tersebut sampai dicarikan ke tiap kereta yang kami naiki namun tetap hasilnya nihil *apa mungkin jatuh terbang ketiup angin ke rel keretanya ya*. Akhirnya kami kembali ke kantor JR PASS untuk meng-issue-kan kembali saja JR PASS tersebut menggunakan tanda booking kami sebelumnya, yang dimana masih ada rangkap duanya.

Setelah bersusah payah berkomunikasi hingga sampai sang petugas dan kita sendiri juga kesel, yang akhirnya dia menggunakan layanan penerjemah via webcam dan live melalui aplikasi iPad-nya *kenapa ga dari tadi*, namun begitu kecewa jawaban yang kami dapatkan adalah JR PASS tidak lagi bisa di-issue-kan kembali! Tidak sesuai dengan perkataan karyawan travel agent di Surabaya, tempat dimana kami membeli JR PASS (BACA: Membeli JR PASS di Surabaya), yang mengatakan bahwa JR PASS masih bisa di-issue apabila hilang karena masih ada rangkap satu lagi pada tanda bookingnya. Akhirnya, teman sayapun harus menanggung kerugian dengan membayar lagi perjalanan "putulan" antar kota, membayar biaya shinkansen lagi dan kereta JR lainnya lagi. Intinya, pelajaran yang didapat dari kisah ini ialah jangan sampai JR PASS kalian HILANG! 

Ginza Business & Commercial District


Begitu tiba di Shimbashi Station, kami agak kelimpungan mencari dua teman kami, karena ada beberapa pintu exit yang arahnya bersebrangan agak jauh dan kami tidak tahu mereka ada dimana. Kami bingung harus menghubungi mereka melalui apa karena kedua teman kami terakhir mengabari bahwa kartu internet NTT DOCOMO milik mereka rusak dan tidak bisa diaktifkan (BACA: Membeli Kartu Internet Docomo Jepang di Surabaya). Kontak terakhir dengan mereka adalah saat mereka berangkat menuju Shimbashi Station dari Bandara Haneda, dan sudah pasti mereka menggunakan WIFI gratis di Haneda. Di Jepang sendiri, layanan WIFI gratis di tempat umum agak susah ditemukan, paling banter ya sudah pasti di kafe/restoran dan juga hotel. Untung insting kami cukup kuat, begitu berjalan ngasal ke salah satu pintu exit, eh langsung terlihat kedua teman kami! Akhirnya kami berlima terkumpul!  *jangan ditiru yaa kalo instingnya ga kuat haha*

Kami berlima berjalan menuju penginapan kami di area Ginza. Ginza? Mendengar kata Ginza yang teringat adalah distrik yang penuh kemewahan. Bagaimana tidak, ini adalah area glamour milik Tokyo, jajaran butik fashion ternama dunia berkumpul di sini, orang-orang yang ada disini pun semua terlihat sangat fashionable! Ditambah lagi jajaran mobil sport yang terparkir di jalanan, sudah pasti Ginza adalah areanya kalangan borjuis, seluruh kegiatan komersial disini pasti diperuntukkan hanya untuk kalangan high class! Lalu bagaimana kami bisa mendapat penginapan disini yang sesuai budget mahasiswa seperti kami? Jawabannya adalah dengan keberuntungan! Pada saat kami memesan kapsul di hotel tersebut, kebetulan hotel tersebut baru saja selesai dibangun dan diresmikan, dan jelas saja harga yang kami dapatkan adalah harga PROMO, saat ini tentu sudah berbeda jauh dan naik melambung tinggi.

Ginza surga tempat belanja bagi fashionista dan kalangan high end, banyak flagship store terkenal disana-sini

Setibanya di hotel, saat itu jam masih menunjukkan sekitar jam 11 lebih, pihak receptionist mengatakan bahwa kami baru bisa check-in jam 3 sore. Mereka pun bersedia dititipkan koper-koper raksasa kami sampai jam 3 nanti, dan kamipun berjalan-jalan di area Ginza untuk mencari makan siang dan melihat-lihat. Banyak sekali toko-toko terkenal disana, yang sudah biasa macam Uniqlo yang sampai 12 lantai yang katanya terbesar sedunia ada disini, ada juga H&M, ZARA, PRADA, GU dan lain-lain.

Oh ya, kebetulan saat itu hari Minggu! MINGGU pagi sampai siang ialah waktu dimana Ginza sedang menerapkan CAR FREE DAY, jalanan utamanya lowong selowong-lowongnya, bisa bebas mau jalan di tengah-tengah, kamipun memanfaatkannya untuk foto-foto, sayang nggak bisa OOTD karena outfit-nya sama sekali mbambung dan nggak kece. Akhirnya siang itu kami makan di salah satu bar *iya bar yang jual liquor* di salah satu mall disana dengan menu Japanese curry.

Ginza Wako Clock Tower

Minggu adalah CAR FREE DAY di Ginza! Bebas berjalan-jalan di tengah tanpa takut tertabrak

Uh-oh wajah saya terlihat besar dan kusam, ini foto tahun 2015, sekarang udah beda jauh kok *pembelaan*

ASAKUSA (SENSOJI TEMPLE)


Jam masih menunjukkan jam 1 kurang, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke daerah Asakusa. Kami berangkat menggunakan Tokyo Metro Subway dari Ginza Station. Tiba disana, gerimis rintik-rintik tidak menghalangi perjalanan kami.  Di Asakusa ini kami berfoto-foto di depan Sensoji Temple dan membeli sedikit cinderamata yang dijual di toko-toko sepanjang jalan menuju kuil. Untuk kisaran harga souvenir disini terhitung lumayan murah dibanding di tempat wisata lainnya. Sebenarnya saya sudah merencanakan juga akan mencoba makan ramen halal Naritaya yang terkenal dan terletak di area itu sekalian menumpang sholat karena saya baca ada mushollanya juga (BACA: Halal Ramen Naritaya), namun karena kami tadi baru saja makan jadi saya mengurungkan niat tersebut.

Sensoji Temple di Asakusa pada hari minggu sangat ramai wisatawan

Dari Asakusa saya sebenarnya juga merencanakan ke Sumida Park, area pinggiran Sumida River yang dimana kita dapat melihat Tokyo Skytree di sebrang sungai sana. Di Sumida Park ini juga banyak pohon sakura, yang pasti akan terlihat sanggat indah bila kunjungan anda ke Jepang pada saat yang pas dengan saat bermekarannya bunga. Saya bermaksud ingin berfoto dengan latar belakang Tokyo Skytree karena sudah jelas kami tidak akan sempat kesana, namun karena hujan tiba-tiba semakin deras, kami segera menuju subway station untuk pergi kembali menuju Ginza.

GINZA BAY HOTEL


Sekembalinya ke Ginza Bay sekitar pukul 4 sore, kami juga disambut langsung oleh sang pemilik hotel yang tiba-tiba muncul *tadi siang nggak ada* di meja resepsionis dan sangat friendly. Pemilik dari hotel kapsul ini adalah warga negara asing, saya sendiri lupa pastinya, yang jelas dari Eropa, seingat saya warga negara Prancis atau Jerman, lupa. Dia menyambut kami dan mengajarkan kami segalanya, mulai dari bagaimana sistem pembayaran otomatis biaya menginap melalui mesin hingga mengantarkan kami mengelilingi hotel untuk memperkenalkan satu-persatu fasilitas dari hotel baru ini, sungguh istimewa! Dan memang benar, hotel kapsul ini sungguh exclusive, dibandingkan dengan hotel kapsul kami di Osaka kemarin, ini sangat sangat beda kelas!

Di hotel kapsul ini dibedakan antara cowok dan cewek ya, beda lantai. Untuk letak hotel ini terhitung sangat strategis sih, cuma beda beberapa blok sama jalanan utama Ginza, ditambah lagi di sebelahnya pas juga ada minimarket LAWSON, jadi nggak usah jauh-jauh pergi kalo kelaperan atau mau cari apa-apa. Fasilitasnya sendiri lumayan banget untuk ukuran hotel kapsul. Langsung cek aja websitenya kalo tertarik dan mau lihat apa aja fasilitasnya dan bentuk gedungnya (KLIK DISINI). Ketika menginap disini, kita juga akan mendapatkan satu tas kit berisi sandal hotel, piyama hotel serta jubah tidur, yang tentu nantinya saat checkout kita kembalikan.

Mesin otomatis di area lobby Ginza Bay Hotel, bayar disini, check-in/check-out juga disini *canggih*

Area bagasi, juga tersedia rak yang lebih besar untuk bagasi yang "raksasa"

Free amenities di meja depan dekat area bagasi, bisa diambil sepuasnya *secukupnya, ralat*

Ruang wastafel, beneran seruangan isinya cuma wastafel, bisa buat make-up/grooming, ada hair dryer-nya dibawah!

Lawson tepat di sebelah Ginza Bay Hotel, masih satu gedung, katanya sih juga baru buka

Untuk masuk ke area ruangan kapsul hanya bisa diakses menggunakan cardkey jadi aman dari orang luar. Setiap area ada CCTVnya, kecuali ya sudah pasti WC dan shower room yak.InsyaAllah aman, dan orang sana terhitung minim tindak kriminal *beda ya ama di Indonesia haha*. Saya alami sendiri saat tas berisi kamera Canon 60D saya tertinggal di area lobby, saya ceroboh dan sama sekali lupa, untungnya beberapa saat kemudian sang pemilik hotel langsung mendatangi kapsul kami dan menanyakan apakah ada yang kehilangan kamera *fiuh bodoh kan*.

Di dalem kapsulnya sendiri sudah ada colokan listrik dan juga USB. Minusnya cuma satu sih, karena mungkin bangunannya teramat baru pas kedatangan kita, jadinya di dalem kapsulnya masih bau kayu-kayu dan agak menyengat, kalo yang nggak tahan bau bangunan baru yassalamOverall hotel ini memuaskan! Bahkan sang pemilik tersebut berkata, di Indonesia belum ada hotel seperti ini, saya yakin di Jepang hanya hotel ini satu-satunya yang merupakan hotel kapsul yang menawarkan banyak fasilitas semewah ini. Ditambah lagi di depan hotelnya ada kolam panjang berisi air panas untuk merendamkan dan mengistirahatkan kaki kita yang kelelahan setelah berjalan jauh, makin top!

Area kapsul, cukup cozy, di dalamnya sudah ada cermin, jam/alarm dan colokan listrik juga colokan USB

Masih sepi saat kunjungan saya ke sana jadi benar-benar semua terasa milik sendiri *devil laugh*

Setelah mandi dan tidur-tidur sebentar di kapsul, menikmati fasilitas hotel yang lumayan mumpuni, kami memutuskan untuk pergi menuju Tokyo Tower. Berangkat dari Ginza Station (menggunakan Tokyo Metro Subway) menuju Tokyo Tower. Untuk menuju Tokyo Tower sendiri seingat saya ada 3 subway station yang paling dekat, tinggal pilih saja mau melalui rute mana dan berhenti dimana, ketiganya tetap sama-sama harus jalan kaki lagi sekitar 500 meter lebih semua, nggak ada yang bisa langsung keluar tepat di Tokyo Tower-nya. Stamina harus kuat, kaki harus setrong!

Begitu sampai di Tokyo Tower, hujan turun cukup deras, kami segera membeli tiket dan langsung naik ke atas menggunakan lift. Saya langsung teringat tentang permainan Pokemon saya di Nintendo, segala hal yang ada dan terjadi disini sangatlah mirip dengan apa yang saya lihat di permainan Pokemon! Setelah puas berkeliling di Tokyo Tower melihat-lihat pemandangan kota dari atas, juga melihat-lihat toko souvenir dan observatory glass, akibat hujan yang tidak kunjung berhenti akhirnya kami memilih duduk-duduk sambil ngemil dulu di kafenya sampai sekitar pukul setengah 11 malam.

Pemandangan gedung-gedung tinggi saat malam hari dari Tokyo Tower, lumayan romantis *baper*

Jalan yang dibuat menyerupai bentukan Tokyo Tower juga bisa terlihat dari atas

Begitu mendekati jam 11 hujan sudah terlihat agak reda namun masih gerimis rintik-rintik, kami memutuskan turun ke lantai bawah. Penyesalan datang terlambat, ketika sampai di lantai bawah kami baru menemukan One Piece Museum dan juga toko yang penuh menjual pernak-pernik One Piece! Karena sudah malam sekali maka toko dan museum tersebut pun sudah tutup. Kami segera berjalan pulang namun kelaparan karena memang belum makan malam *makan nasi/makan berat*. Untungnya tak jauh dari situ, searah jalan kami menuju subway station, ada kedai Yoshinoya, yang hampir dimana-mana ada dan selalu buka 24 jam *semacam McD-nya Jepang*.

Sesampainya kembali di Ginza Bay  kamipun segera beristirahat untuk bersiap-siap berangkat ke Sendai besok menggunakan Shinkansen jam 10 pagi. Karena pada saat itu saya merasa agenda di Tokyo ini kurang, saya mengajak teman-teman saya untuk bangun jam 6 pagi untuk pergi ke Shibuya sekedar berfoto dengan patung Hachiko yang termasyhur itu, namun mereka serempak menolak karena terlalu lelah dan hanya Diva seorang yang bersedia menemani saya! Yah saya pikir buat apa jauh-jauh datang kesini kalau tidak kesana dan hanya tidur-tiduran, selama ada waktu maka akan saya gunakan sebaik-baiknya. Meskipun nanti di hari terakhir sebelum jadwal pesawat kepulangan kami masih ada waktu lagi setengah hari untuk kembali berkeliling Tokyo, namun untuk hari itu sudah saya agendakan mengunjungi tempat-tempat lainnya seperti Shinjuku dan juga Harajuku.

SHIBUYA (HACHIKO STATUE)


Saya bangun pagi sekali dan sudah menata barang-barang saya agar nanti sepulangnya saya dari Shibuya bisa langsung check-out dan berangkat ke Tokyo Station. Tepat jam 6 saya janjian dengan Diva di lobby untuk berangkat menuju Shibuya Station. Saya bangunkan Bowo dan pamitan akan pergi sebentar menemui anjing Hachiko, entah dia mengingatnya atau tidak karena saat itu dia masih setengah sadar *haha nglilir*. Sungguh perjuangan yang luar biasa bagi saya dan Diva, karena pagi itu Tokyo (lagi-lagi) hujan deras! Saya dan Diva tetap mbelani berangkat ke Shibuya bermodalkan payung masing-masing. Menembus hujan pun terlakoni.

Hari itu hari Senin. Jam 6 pagi. Sudah tentu perjalanan saya di dalam kereta dan juga station penuh sesak dan ramai pekerja Jepang pada berangkat kerja, menyemut. Saya dan Diva akhirnya sampai di Shibuya. Keluar dari station hujan sudah mulai mereda, hanya tersisa gerimis rintik-rintik. Kamipun dengan mudahnya menemukan spot foto ternama itu, Hachiko Statue, letaknya benar-benar tepat di depan JR Station Shibuya.


Hachiko Statue *kemudian nangis sedih teringat filmnya*

Sayang karena masih pagi sekali dimana pertokoan disana kebanyakan masih pada tutup, kami tidak bisa melihat ke-hectic-an Shibuya Crossing, yang kalo di film-film selalu digambarkan sangat ricuh. Ya, Shibuya Crossing ini punya banyak sekali jalan yang bersimpangan, mungkin ada 5 atau 6 atau lebih ya simpangnya saya kurang tau pasti, sehingga saat waktu orang menyebrang pada jam-jam prime time akan tampak menyemut ke berbagai arah tabrak sana-sini, dan saat itulah golden time kita untuk berfoto atau merekam video di tengah-tengah huru-hara orang yang menyebrang, dengan pengambilan gambar hanya fokus pada kita dan keramaian orang-orang lain sebagai background yang bokeh/blur... *impian semata*

Shibuya crossing yang masih sepi, antara karena memang sedang hujan atau masih sangat pagi

Kami sempatkan berkeliling sebentar di area Shibuya ini, sebenarnya sekalian mencari sarapan, namun karena memang benar saat itu masih sangat pagi maka masih banyak toko yang tutup! Kamipun segera berjalan kembali ke subway station untuk kembali ke Ginza. Ternyata di dalam Shibuya subway station kami menemukan sebuah kios kecil jajanan yang sudah buka dan menimbulkan bau yang sangat menggoda saat kita lewat di dekatnya, dan itulah sebuah kios franchise yang berasal dari SingaporeMr. Bean!

Ini enak! Lumayan ngganjel perut sebentar setidaknya, ada di Shibuya subway station (Tokyo Metro) yah!

Sampai di Ginza Bay pukul 8 lebih, ternyata teman-teman kami lainnya sudah bangun dan siap berangkat. Check-out dilakukan dengan memasukkan keycard ke dalam mesin otomatis di area lobby. Kamipun segera menuju Ginza Station untuk menuju Tokyo Station. Perjalanan ke Sendai akan segera dimulai! Bye bye Tokyo! Kita akan kembali melanjutkan keliling Tokyo di hari terakhir kami sekembalinya dari Sendai dan sebelum jadwal flight kepulangan kami melalui bandara Haneda! (BACA: Trip to Jepang! - Part 5)

No comments:

Post a Comment