TRIP TO JEPANG! - Part 1 (Persiapan & Keberangkatan)

Hai! Sudah lama banget nggak nulis apapun disini dan akhirnya hari ini di tahun 2016, kepikiran juga buat menuhin janji nyeritain tentang trip ke Jepang di bulan September 2015 lalu. Trip kali ini adalah trip setelah sekian lama nggak kemana-kemana sejak 2013 lalu dimana saya harus dikekang di dunia klinik dan akhirnya di tahun 2015 kemarin kampus ngadain program ini hehe. Trip kali ini tetep penuh drama dan kejadian menarik, yang pastinya seruuu dan jadi dapet banyak pengalaman hidup *alah*, ikutin yuk ceritanya... Enjoy!


PERSIAPAN (Itinerary, Flight, Akomodasi)


Seperti yang saya tulis sebelumnya, perjalanan saya ke Jepang ini sebenarnya untuk mengikuti program student exchange selama 10 hari di Faculty of Dentistry Tohoku University yang tepatnya ada di kota Sendai, prefektur Miyagi. Saya berangkat bersama 2 orang teman saya 5 hari lebih awal dari hari dimulainya program tersebut, yap tentu saja karena ingin jalan-jalan menikmati keindahan negeri sakura ini terlebih dahulu, a.k.a extend di awal, mengingat kalo kita extend setelah program selesai kami tidak ada waktu karena harus segera kembali ke Indonesia karena setelah kepulangan kami langsung akan ada kunjungan balasan dari pihak Tohoku ke fakultas kami, jadi ya sekalian aja jalan-jalan dulu udah jauh-jauh sampai sini juga hehehe. Sebenarnya total yang dikirim fakultas ada 5 orang, namun 2 orang lainnya akan menyusul di hari berikutnya.

Back to the trip, petualangan total selama 15 hari ini kami di Jepang ini telah kami susun sedemikian rupa (10 hari program student exchange dan 5 hari jalan-jalan). Dalam 5 hari jalan-jalan ini, kami memilih tiga kota yang katanya emang harus didatengin as a Japan first-time traveler, apalagi kalo bukan Tokyo, Osaka dan Kyoto. Pasti pada mikir, gimana bisa yah dalam 5 hari terus bisa ngunjungin 3 kota sekaligus dilahap, mengingat rata-rata orang pasti baru bisa puas selesai ngunjungin 3 kota itu dalam 1 minggu.. Yap itu hebatnya kami! Kami sangat menyusun itinerary dengan cermat dan benar-benar detail. Time is really precious! Untuk flight, kami memilih penerbangan terpagi saat keberangkatan dan penerbangan termalam saat kepulangan. Sejak 1 bulan sebelumnya kami mempelajari sistem transportasi di Jepang, kami melihat serta mencatat nama, rute serta timetable setiap kereta, mulai kereta lokal sampai shinkansen, dan juga bus yang akan kami gunakan selama 15 hari tersebut. Kami bahkan juga sudah membuat rencana alternatif, plan B dan sebagainya. Untungnya Jepang memang negara yang super canggih dan tanggap teknologi, sehingga semua informasi itu sangat mudah ditemukan via surfing internet, saya sarankan menggunakan situs HyperDia untuk hal ini, paling lengkap dan real-time menunjukkan jadwal kereta/bis di Jepang. Kami juga sudah menentukan tempat-tempat wisata yang akan kami kunjungi setiap harinya dan ditiap agendanya sudah kami jatah durasi waktunya dengan menggunakan perkiraan perhitungan lamanya kami berjalan kaki. Tak lupa juga kami juga sudah menghitung biaya yang dibutuhkan selama trip tersebut. Look, precise preparation is a MUST for you or those who only have short amount of time for travelling! Dan yang paling penting lagi, kopernya jangan berat-berat yah *koper saya termasuk super gede sih hahaha*, mengingat kita harus mobile sana-sini, yang pasti siapin stamina, power, fisik, fisik dan fisik! Mengingat kita adalah para traveler mandiri yang kemana-mana harus jalan kaki pindah-pindah kereta, menyusuri jalanan sambil bawa koper dan barang-barang lainnya sendiri, nggak kayak di Indonesia.. *beruntungnya kamu kalo rajin olahraga*

Garis besar itinerary kami selama 15 hari seperti ini:
Hari 1: Dari Haneda Airport langsung menuju ke Osaka, jalan-jalan sampai malem
Hari 2: Universal Studio Japan (USJ), terus pulangnya sore jalan-jalan lagi sampai malem
Hari 3: Trip ke Kyoto seharian dari pagi sampai malem, terus balik Osaka
Hari 4: Ke Tokyo! Jalan-jalan sampai malem!
Hari 5: Jalan-jalan di Tokyo sampe siang, terus langsung ke Sendai!
Hari 6-14: Program Student Exchange di Tohoku University, Sendai
Hari 15: Balik ke Tokyo, sambil nunggu flight malem jalan-jalan di Tokyo!

Oke, berlanjut ke masalah flight. Karena kami mahasiswa-mahasiswa yang tau diri dan sangat mengerti betapa berharganya uang haha, kami tentu saja memilih maskapai low-cost-airline yang sudah terkenal, AirAsia. Yah sebenernya kami dapet dana bantuan dari pihak kampus di Surabaya maupun beasiswa dari pihak Tohoku, tapi tetep aja dananya baru bisa dicairin kalo program pertukarannya udah kelar, jadi intinya trip ini tetep pake uang bapak sama emak pribadi dulu *hiks*. Kami membeli tiket via web AirAsia dan kemudian untuk upgrade bagasi serta pemilihan nomor seat kami langsung mendatangi kantornya di Tunjungan Plaza (yang sebenarnya juga bisa dilakukan via web langsung). Dari sana juga kami tau, sejak beberapa tahun belakangan ini, layanan FlyThru alias Transit Check-in di AirAsia (ato intinya layanan/fasilitas yang diberikan maskapai penerbangan kalo pas kita transit, terus koper kita langsung dioper dari pesawat awal ke pesawat selanjutnya, jadi kita ga repot ngambil bagasi terus naruh lagi ke konter check-in) sudah termasuk harga tiket, nggak perlu nambah biaya lagi kayak dulu. Sudah hampir miriplah sama fasilitas kalo kita naik maskapai yang agak mahalan hehehe.

Oh ya meskipun acara inti dari trip kami ada di Sendai, namun kami memilih datang dan pulang via Tokyo (Haneda International Airport). Kenapa di Tokyo, karena Tokyo pas berada di tengah-tengah Jepang! Kalo ke Sendai yang di timur laut ga terlalu jauh dan misal kalo ke Osaka yang ada di tenggara juga ga terlalu jauh. Kenapa pilih via Haneda Airport, padahal di Tokyo juga ada bandara Narita yang lebih gede dan bagus, ya tentu saja karena Haneda lebih deket ke kota Tokyo sendiri, ga makan waktu lama dan biaya keretanya lebih murah hehehe.

Untuk masalah penginapan selama 5 hari pertama ini, kami hanya menginap di Osaka (3 malam) dan Tokyo (1 malam) saja. Sedih memang tidak bisa menginap di Kyoto yang notabene adalah kota terindah yang sangat lekat dengan budaya serta kehidupan tradisional khas Jepang itu, namun karena kami berpikir apabila kami harus pindah-pindah hotel pasti akan memakan banyak waktu, maka kami memutuskan perjalanan di Kyoto dapat dilakukan one-day-trip alias langsung PP dari Osaka, tetep berpegang teguh cari jadwal kereta shinkansen terpagi waktu berangkat dan termalem waktu pulang. Jarak Osaka-Kyoto sendiri kalo naik kereta super cepat ini cuma makan waktu sekitar setengah jam aja, sama seperti waktu yang saya butuhkan kalo nyetir dari rumah ke kampus kalo di Surabaya, padahal jarak sebenarnya ya mirip-mirip Surabaya-Malang! Kereta shinkansen emang sangat-sangat membantu perjalanan kita sebagai short-time traveler selama di Jepang *all hail shinkansen!*. Nanti hotelnya kita bahas di postingan selanjutnya yah! Oh ya untuk melakukan pemesanan hotel di Osaka dan Tokyo ini semuanya kami lakukan via situs booking.com dimana semuanya tidak membutuhkan uang muka terlebih dulu alias pembayaran saat kedatangan (pay on arrival). Memang nanti pada saat pemesanan akan ditanyakan nomor kartu kredit, namun anda tetap dapat mem-book dengan memasukkan nomor kartu debit anda saja, apapun itu yang berlogo visa/mastercard, tidak akan di-debit sama sekali, safe dan tetep secure kok hehe. Kalo mau yang lain juga bisa coba agoda, hostelworld atau hostelbooking, tapi harus menggunakan kartu kredit untuk transaksi uang mukanya.

Misal kalo ada yang mau lihat itinerary saya yang lebih detail di trip ini atau tanya-tanya tentang pengalaman saya tentang persiapan, akomodasi sampai transportasi saya di Jepang ini bisa langsung komen atau e-mail aja yah, sebisa mungkin kalo saya tau ya saya bantu. Oh ya kalo masalah mengurus visa klik ini aja (Baca: Mengurus Visa Jepang di Surabaya). Oke nice! Itinerary udah siap dan ketata, akomodasi reservedflight oke, visa sudah didapat, oke siap deeeeh berangkat!

KEBERANGKATAN


Perjalanan dimulai disini. Kami berangkat dari Bandara Internasional Juanda Surabaya (SUB) sekitar jam 9 pagi dan kemudian tentu saja transit di Kuala Lumpur International Airport (KLIA2) Malaysia. Kami tiba di Malaysia kira-kira jam 1 siang, dan disana dalam waktu transit yang itungannya mepet, hanya 1,5 jam, kami sempatkan sholat dhuhur dulu di Prayer Room dan mengisi perut dengan sepaket Whooper di Burger King dan kemudian langsung masuk gate untuk melanjutkan penerbangan ke Tokyo selama 7-8 jam. Kejadian yang menarik adalah saat kami masuk gerbang transit dari terminal kedatangan menuju terminal keberangkatan, seperti biasa waktu itu kami melewati gate untuk pemeriksaan tiket dan x-ray, dan anehnya.. sang petugas bandara laki-laki yang tentu saja kental dengan logat melayunya langsung menanyai kami,"wah ini semuanya dokter ya?" Kami hanya tersenyum-senyum innocent tanpa jawaban, tau darimana ini orang, pikir kami dalam hati. Masalahnya pada saat itu kami sama sekali tidak menggunakan atribut, aksesoris, baju atau apapun yang merupakan ciri ataupun identitas kampus dan profesi kami, bahkan setau saya di paspor maupun tiket yang kami tunjukkan tidak ada yang mencantumkan profesi maupun institusi kami, sungguh aneh dan ajaib! *sixth sense alert* -_-

Selanjutnya perjalanan diisi dengan rasa hampa dan kesemutan selama 7-8 jam, yap setidaknya lebih sebentar daripada perjalanan saya sebelumnya ke Eropa, namun yang ini karena menggunakan low-cost-airline tentu saja tidak ada hiburan semacam tv, makanan, free flow minuman dan sebagainya. Alhasil, hampir 80% perjalanan diisi dengan tidur juga rasa bosan dan 20% memandangi mbak-mbak pramugari yang super cantik kayak boneka berkewarganegaraan Jepang. Oh ya, ini merupakan pengalaman saya pertama kali menggunakan low-cost-airline untuk penerbangan yang terhitung di luar wilayah ASEAN, dan ternyata untuk penerbangan internasional yang agak jauh semacam ini (dari Kuala Lumpur menuju Tokyo), tentu saja maskapai ini menggunakan pesawat yang lebih besar pula, tidak seperti pesawat yang "amat-sangat-terbatas" seperti pada saat penerbangan lokal ataupun antar negara ASEAN. Kru dari penerbangan ini juga dicampur-campur, ada yang berasal dari Malaysia maupun Jepang. Penerbangan ini tentu akhirnya juga dipandu dengan 3 bahasa, bahasa Melayu, Jepang dan tentu saja Inggris. Overall, yah sesuai harganya, semuanya pas! Yang bikin ngganjel waktu pake maskapai ini selama trip cuma pas waktu kepulangannya aja ke Indonesia, nanti ya dilanjut diceritain di postingan selanjutnya.

Kabin pesawat yang kami pakai kayak gini intinya, saya nggak kepikiran buat moto, ini courtesy of Honvee ya!

Setibanya di Jepang dan selesainya mengurus imigrasi sekitar jam setengah 11 malem, yang dimana tentu saja kantor penukaran JR PASS sudah tutup saat itu (Baca: Membeli JR PASS di Surabaya), dan otomatis kami akan terperangkap di bandara nggak bisa naik kereta kemana-mana *taksi ke kota mahal banget sis*, maka kami memang sudah berniat dari awal keberangkatan dan memutuskan malam itu akan bermalam di Bandara Haneda saja hingga esok paginya saat kantor penukaran JR PASS buka. Sebelum kami mencari spot di Haneda untuk menggelandangkan diri kami bersama koper-koper raksasa kami, kami mencari makan terlebih dahulu. Dan satu-satunya yang masih buka jam segitu adalah tentu saja restoran fastfood Jepang 24 jam No. 1 yang juga ada di Indonesia dan mungkin lagi hits di Surabaya, Yoshinoya, yang ada di terminal keberangkatan (KLIK DISINI). Sisanya sudah tutup semua *sad*. Oh ya buat kamu yang merasa gerah dan emang kebelet buat mandi, di bandara Haneda ini juga ada fasilitas shower room loh (KLIK DISINI), tepatnya ada di terminal kedatangan, agak sedikit mahal sih memang, namun yang pasti waktu penggunaannya hanya dibatasi maksimal 30 menit, dan sudah dapat handuk, sabun serta shampoo Shiseido. Kalo saya dan teman-teman sih bisa menahan diri untuk tidak mandi hahahaha.

Setelah makan, kami mencari spot di pojokan terminal keberangkatan yang banyak sekali kursi-kursi panjang di dekat Prayer Room. Ternyata benar yang saya dengar dan baca dari blog-blog sebelumnya, memang banyak sekali orang-orang yang menginap dan tidur di kursi-kursi Bandara Haneda ini, bahkan mereka sudah "mapan" alias menyiapkan tempat kekuasannya masing-masing untuk tidur, memakai selimut, penutup mata dan lain sebagainya. Berbagai ras, warga negara, ada orang Melayu, Indonesia, Barat, China bahkan orang Jepang sendiri juga tidur di bandara, rata-rata mereka adalah orang-orang yang seperti kami, menunggu kantor penukaran JR PASS buka, atau transit menunggu penerbangan lanjutan pada pagi harinya namun malas menginap di hotel bandara. Yap, memang ada hotel bandara disini, tempatnya ada di terminal keberangkatan (KLIK DISINI), di pojokan, dari Yoshinoya turun saja 1 lantai dari lift terdekat disitu dan terlihatlah hotelnya di sebelah kanan, namun tentu saja harganya selangit! Ya karena kami pikir hanya butuh waktu menunggu sekitar 7-8 jam saja (kantor JR PASS baru buka sekitar jam 8 pagi) lalu buat apa menginap dan membayar uang mahal-mahal untuk hotel yang kita tinggali kurang dari semalam.

Haneda International Airport terhitung bandara yang cukup lengkap fasilitasnya, yah meskipun memang berdalih beroperasi selama 24 jam penuh namun nyatanya konter-konter check-in dan hampir semua pertokoan disana sudah tutup pada pukul 10 atau 11 malam. Di bandara ini fasilitas yang paling menyenangkan ialah adanya Prayer Room (KLIK DISINI), tidak kalah seperti saat kami transit di KLIA2. Disini, kami sempatkan menjamak sholat dan kemudian mencuci muka. Prayer Room ini terletak di sudut terminal keberangkatan dan berjumlah dua buah, satu untuk pria dan satu untuk wanita, dan hal yang perlu diingat adalah bahwa fasilitas ini hanya boleh difungsikan untuk berdoa/sholat saja! Yah meskipun ada colokan di dalemnya, dingin ber-AC dan ada karpetnya luas membentang *kalo mau nge-charge hp sambil tidur-tiduran pasti puas*fasilitas ini tidak seperti di mushola-mushola Indonesia pada umumnya.

Pasti akan nyaman sekali kalo kita bisa tidur dan menghabiskan malam di dalamnya, nggak usah ke hotel, tidur disini pun juga bisa banget, nggak perlu berebut kursi untuk tidur kayak di luar-luar, tapi sayangnya hal ini mustahil dilakukan! Kenapa? Karena setiap 15 menit sekali akan ada petugas keamanan yang berkeliling dan pasti kemudian akan mengusir anda apabila ketauan tidur di dalamnya hahahaha. Silahkan dicoba, teman saya sendiri dan beberapa orang yang tampaknya juga orang Indonesia sudah mengalami dan membuktikannya hahaha *kebiasaan orang Indonesia*. Oh ya, di dalam Prayer Room ini memang ada panduan arah kiblat dan tempat wudhu, namun fasilitas ini juga bisa digunakan berbagai agama, tidak hanya muslim saja. Yang canggih adalah untuk menggunakan ruangan ini, kita harus berbicara dan meminta ijin terlebih dulu dengan operator via interkom berkamera yang ada di sebelah pintu masuk, baru kemudian pintu akan terbuka otomatis. Jadi intinya pintu tidak akan terbuka jika kita tidak berbicara terlebih dahulu dengan operator tersebut.

Prayer Room di sudut terminal keberangkatan, di sebelahnya ada interkom untuk ijin penggunaannya

Saya pun kemudian tertidur di kursi panjang di depan Prayer Room tersebut bersama orang-orang lainnya. Oh ya saat tidur pastikan barang-barang berharga anda tetap berada di dekat anda, atau mungkin jadikan saja tas kecil anda yang berisi gadget, paspor serta dompet menjadi bantal, untuk koper dan bagasi-bagasi besar silahkan ditaruh di dekat anda atau dibaringkan di bawah kursi anda, yah meskipun Jepang adalah salah satu negara teraman di dunia, apa salahnya kita tetap waspada kan hehe. Kemudian sekitar jam 4 pagi saya terbangun karena mendengar beberapa kru maskapai yang sudah mulai berdatangan dan mempersiapkan konter-konter check-in untuk buka, mereka menggeret timbangan-timbangan koper manual serta menata banner-banner di depan konter check-in.

Beruntungnya saya bisa tidur dengan cukup nyenyak walau hanya sekitar 3-4 jam saja di kursi yang itungannya keras, cukup kasian teman saya yang bahkan sama sekali tidak berhasil tidur karena sangat merasa tidak nyaman alhasil pagi-pagi tergeletak lemas dan bermata panda *puk puk ya namanya juga kursi bandara*. Saya kemudian sholat shubuh dan kemudian kembali mencuci muka. Mendekati jam 6, bandara sudah kembali agak ramai, semua orang yang tidur di kursi-kursi sudah terbangun dan sudah beranjak bersama koper-kopernya. Tampak juga beberapa antrian calon penumpang di konter-konter check-in. Sampai jam 7, ternyata pertokoan disana juga sudah mulai buka, kami pun mencari sarapan di minimarket 7Eleven. Kami membeli roti, susu dan onigiri yang terhitung murah disana. Ya ini salah satu tips kami selama berada di Jepang, untuk sarapan cukup beli di Lawson atau 7Eleven saja, hemat dan cukup mengisi perut sampai siang.

Bandara Haneda sekitar jam 6 pagi, sudah mulai ramai antrian penumpang di konter check-in

Pemandangan pagi dari luar kaca bandara di dekat kursi "tempat tidur" kami di dekat Prayer Room

Setelah selesai menghabiskan sarapan, sambil menghabiskan waktu menanti kantor JR PASS buka jam 8, kami putuskan untuk berkeliling bandara untuk melihat-lihat dan berfoto-foto. Cukup menarik karena disini terdapat area yang diisi dengan gantungan-gantungan papan kayu kecil yang berisikan pesan-pesan maupun harapan orang-orang, kita pun juga bisa menulis sendiri namun harus membeli papan kayunya terlebih dahulu, saya lupa berapa yen hehe. Segera kemudian sekitar jam setengah 8 kami menuju ke dekat terminal kedatangan dimana kantor penukaran JR PASS berada. Kantor penukaran ini namanya JR EAST Travel Service Center yah info aja (KLIK DISINI), disini tempatnya nukerin tanda book JR PASS kamu buat jadi JR PASS yang sebenarnya. Tampak didepannya sudah ada antrian mengular sekitar 6-7 bule-bule yang menunggu. Kamipun kemudian juga ikut mengantri di belakangnya. Tak lama kemudian, tampak kantor dibuka dan akhirnya kami mendapatkan JR PASS kami! Oh ya, jangan lupa waktu mau nukerin, siapin paspor ya dan ambil dulu form yang ada di deket loketnya terus diisi dulu deh sambil nunggu antrian. Form-nya udh ditaruh di alas-alas papan gitu sama bolpoinnya jadi langsung ambil aja sepapannya, semacam papan yang biasa dibuat alas LJK pas ujian sekolah jaman muda itu lho. Langsung saja setelah selesai kami masuk gate JR Tokyo Monorail tepat di sebelah kantor tersebut untuk menuju Tokyo Station dan kemudian menuju Osaka menggunakan Shinkansen. Perjalanan kami di Jepang hari pertama pun dimulai! Ceritanya sampai disini dulu ya, berlanjut ke Part 2! (^_^)

Salah satu spot foto di Haneda International Airport, banyak sekali wishes yang ditulis orang-orang disini

No comments:

Post a Comment